Bisakah daur ulang benar-benar disebut “berkelanjutan” jika para pekerjanya masih belum memiliki keselamatan dasar?
Dalam rantai daur ulang di Indonesia, para mitra lapangan memegang peran paling berat: mengumpulkan, memilah, dan menyiapkan material untuk diproses kembali. Namun, terlalu banyak di antara mereka yang masih bekerja dalam kondisi yang tidak aman dan tidak manusiawi—tanpa atap, tanpa dinding, lantai tanah, dan tanpa standar keselamatan kerja. Inilah kenyataan yang sering tidak terlihat.
Di Ambon dan Makassar, Recovered Indonesia hadir bukan dengan sekadar wacana, tetapi dengan tindakan nyata. Dengan dukungan dari Alliance to End Plastic Waste, kami merenovasi gudang mereka agar memenuhi standar dasar keselamatan kerja dan produktivitas, melalui:
- ✅ Atap dan dinding yang layak serta pencahayaan yang lebih baik
- ✅ Perbaikan struktur bangunan dan lantai kerja
- ✅ Penerapan komponen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) untuk operasional yang lebih aman
Hasilnya bukan hanya bangunan yang lebih baik, tetapi juga lingkungan kerja yang lebih aman serta kualitas material yang lebih konsisten ♻️
“Kalau hujan, kami tidak bisa bekerja karena atapnya bocor. Sekarang gudangnya aman, dan kami bisa bekerja dengan baik.” — Pak Hamsah, Makassar
“Dulu kami berdiri dan memilah plastik di lantai tanah. Sekarang ruangnya lebih layak, kami jadi lebih semangat bekerja.” — Mama Tjentje, Ambon
Kami sangat berterima kasih kepada Alliance to End Plastic Waste atas dukungan nyata di lapangan—bukan hanya laporan, bukan hanya target, tetapi juga martabat dalam pekerjaan sehari-hari.
Di Recovered Indonesia, kami memahami satu hal penting: ekonomi sirkular yang kuat tidak dimulai dari pabrik, tetapi dari manusia yang bekerja di lapangan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Can recycling be called “sustainable” when workers still lack basic safety?
In Indonesia’s recycling chain, field partners do the hardest work: collecting, sorting, and preparing materials for recovery.
Yet too many still operate in unsafe, undignified conditions, no roof, no walls, dirt floors, zero safety standards. That’s the uncomfortable truth.
In Ambon and Makassar, Recovered Indonesia stepped in, not with speeches, but with action.
With the support from Alliance to End Plastic Waste, we renovated their warehouses to meet basic work safety and productivity standards:
- ✅ Proper roofs & walls, better lighting
- ✅ Improved building structure and flooring
- ✅ HSE components for safer operations
The result? Not just better buildings, but safer work and more consistent material quality ♻️
“When it rained, we couldn’t work because the roof was broken. Now the warehouse is safe, and we can work properly.” — Pak Hamsah, Makassar
“We used to stand and sort plastic on dirt floors. Now the space feels proper, it gives us new motivation to work.” — Mama Tjentje, Ambon
We’re deeply grateful to Alliance to End Plastic Waste for backing real, on-the-ground improvements, not just reports, not just targets, but dignity in daily work.
At Recovered Indonesia, we’re clear about one thing: A strong circular economy doesn’t start at the factory, it starts with people on the ground.